Minggu, 07 Agustus 2016

PERNAH GAGAL ITU BAIK


SKENARIO ALLAH


Saya ingin berbagi cerita, entah nantinya cerita saya akan jadi membosankan atau malah akan menjadi cerita inspiratif bagi banyak orang. tapi saya berharap saya bisa menginspirasi banyak orang lewat tulisan saya, semoga saya bisa melakukannya.

Berawal dari SMP kelas 9, saya bingung memilih sekolah jenjang selanjutnya. Ikut kata hati atau kata orang tua. Tapi kata hati saya tak berkata dan saya memutuskan sesuatu dengan emosi. Penyesalanpun berbondong-bondong datang kepada saya. Orang tua memilihkan saya sekolah, saya setuju saking emosinya diri saya. Saya seperti orang yang hilang arah, tak punya tuju, hanya bisa mengiyakan semuanya.

Ujian Nasional telah selesai, sebulan kemudian pengumuman sudah ada. Alhamdulillah saya lulus bersama semua angkatan saya. Sedihnya nilai tak sampai ke target yang saya inginkan. saya berbisik dalam hati, “saya salah mengambil langkah di bagian mana, kenapa semua usaha terbalas dengan pahitnya kehidupan”. saya berdiri di tengah keramaian, tapi entah kenapa, saya merasa sendiri, terpukul atas apa yang telah terjadi. Berusaha menahan tangis, menahan amarah dan menahan diri dari hal-hal bodoh yang mungkin dapat membuat saya keluar dari jalur yang lurus. Tapi, saya berusaha bangkit, menyemangati diri yang lemah ini. Saat itu pula saya mengurus semua berkas dan berharap saya bisa lulus di Sekolah yang saya impikan. Selanjutnya, saya menunggu penguman,hari-hari penuh dengan tawa palsu, dengan senyuman palsu. Kata hati saya “cukup saya saja yang merasakan sakit ini. Orang tua saya, keluarga saya, serta teman-teman saya tidak boleh tersakiti”. 

Singkat cerita. Pagi hari saya terbangun dari tidur, mendengar kabar yang sangat membuat hati saya sakit. Saya seperti hidup tanpa bernapas, saya seperti melihat tapi mata tercungkil, saya seperti berdiri diatas pisau dan parahnya saya tak bisa merasakan sakit dari luka yang ada ditubuh saya. Dan rasanya pisau tajam menembus jantung ini. Saya tidak lulus di sekolah impian saya. Saya berusaha senyum, senyum, dan senyum. Tapi entah kenapa air mata saya ikut berlinang. Dan lebih parahnya saya tak bisa menangis di depan siapapun selain, ALLAH. Saat sujud terakhir, saya memaksa dengan mengatasnamakan “AKU BERDOA” saya memaksa kehendak, saya terus memaksa Allah untuk mengabulkannya, mengabulkan keinginan saya. Mungkin saya sudah setengah gila saat itu, dan tak satupun yang bisa merasakannya, saat saya bangun dari sujud entah kenapa saya merasa kosong, merasa nyawa saya sudah hilang, saya mungkin salah. Salah dan tak sadar, tapi tak tahu harus apa. Saking hilang arahnya, saya sempat berburuk sangkah pada Allah. Dosanya diriku yang berani berburuk sangka pada-Nya yang tanpa sadar saya berlumur dosa tapi terus meminta hak tanpa melakukan kewajiban. Entah apa yang terjadi, saat itu aku benar-benar putus asa. Tak satupun pundak yang menopang air mataku, saya mengangkat beban ini sendiri, saat saya butuh teman curhat saya berpikir “percuma saya cerita panjang lebar kepada siapapun, mereka pasti tidak bisa merasakannya dan ini mungkin bukan hal penting bagi mereka”. Saat itulah saya harus berdiri sendiri, berdiri tegak walau tanpa kaki. Saya pasrah.

Singkatnya. Saya masuk di SMA yang mungkin tidak kurencanakan sama sekali. Saya lalu bertanya “apa yang sebenarnya Allah rencanakan?”. Serasa kebahagiaan saya tak adalagi. Saya seperti sekolah tanpa tujuan. Hari-hari dipenuhi drama. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan. Menangis di gelapnya malam, tak tidur sampai matahari muncul. Mata yang sembab adalah hal biasa bagi saya, berusaha tertawa, tersenyum seolah-olah tak terjadi apapun dalam hidup saya.

1001 motivasi yang saya dengar, yang saya baca, tak ada satupun yang membangkitkan semangat ini. Tak ada motivasi yang bisa membuat hati saya tersentuh. 

Hingga pada saat malam itu, saya sebagai alumni SCAMS saya punya tanggung jawab untuk membagikan ilmu kepada junior. Dengan ikhlas, sayapun berangkat ke SMP saya untung membimbing, sepanjang perjalanan yang saya pikir ialah “ilmu apa yang dapat saya berikan kepada junior saya, saya saja masih kurang ilmu”.

Sampai di tempat bimbingan, saya melihat wajah-wajah penerus, wajah-wajah yang bersemangat menerima ilmu. Entah kenapa saya malu bertemu dengan pembimbing saya, yaitu pak Mansyur atau lebih dikenal dengan panggilan PMAN. Entah saya malu karna apa, saya merasa minder, entah kenapa. saya pasrah.

Saat itupun tiba, kaget melihat beliau datang, senang dapat bertemu lagi dengan sosok yang sangat berpengaruh dalam hidup saya. Beliau menitipkan amanah untuk membagikan ilmuku dan ilmu teman-temanku kepada junior. Saya menerima dan saya akan berusaha membuat junior saya menjadi lebih baik dari saya. Pman bergegas ingin pulang karna sesuatu hal yang harus dikerjanya. Tapi, kupikir ini kesempatan bagi saya untuk menceritakan batu loncatan yang ada di hidup saya. “Pak, sibukki?” ucapku. Sambil berbalik badan beliau mengatakan “Tidakji, kenapa?”. “Mauka cerita tentang batu loncatan yanga ada di hidupku pak”. Beliau menghampiriku dan dari raut mukanya beliau sepertinya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saya. Dan kata-kata yang membuat hati saya tergetar ialah “kamu sekolah disitu, itu adalah anugerah yang terindah yang telah Allah kasih kepada kamu, kamu harus yakin skenario Allah itu selalu indah, skenario Allah itu cantik, dan kamu harus enjoy, jangan malu.” Kurang lebih seperti itu. Setelah berbicara dengan beliau seperti pembicaraan yang terjadi selama kurang lebih 20 menit itu mengubah pola pikir saya, mengubah hidup dan mengubah kesedihan sebagai awal dari kesenangan. Saya salam kepada beliau dan bertima kasih, setelah beliau meninggalkan ruangan itu, aku berbalik badan, saat itupun hatiku tergerak, tergetarkan oleh kata-kata beliau, tak bisa saya menahan tangis,  saya menangis saat itu juga. Entah kenapa, sudut pandang saya terubah menjadi lebih baik. Allah selalu mengerti umatnya, dan sekarang aku mengerti cara Allah mengerti umatnya ialah mendatangkan seseorang yang bisa mengerti kita, mungkin itu cara Allah mengerti saya, yaitu mengirimkan Pman sebagai motivator yang sangat mengerti saya. Sayapun berusaha menerima dengan lapang dada. Saya mengerti.

“Skenario Allah itu selalu indah walau prosesnya terkadang buruk, tapi ingat hargai sebuah proses, tanpa proses kita tak bisa mengetahui jawaban yang sebenarnya. Maka dari itu, tetap berusaha, berdoa dan percaya bahwa Allah adalah penulis skenario terbaik untuk kita”.
-Tri Nadia Asrini-