Jumat, 02 September 2016

SEBUAH FAKTA

MENYONTEK


Hari ini saya akan berbagi pengalaman tentang ulangan dan menyontek. Mungkin sudah saya singgung hal ini dengan tulisan saya yang berjudul “NILAI ATAU ILMU”.

Hari ini kebetulan kelas saya melakukan remedial jama’ah hehe. Iya satu kelas remedial matematika umum. Sedikit mengecewakan, tapi itu salah kami.

Remedial dimulai, kecemasan bukan cuma saya yang merasakan, tetapi untuk semua teman kelas saya merasakan hal yang sama. Riuh di dalam hati berbaur dengan detak jantung yang tak henti-henti membuat kacau pikiran.

Sebagian mungkin sibuk mencari cara bagaimana membuka contekannya. Saya sendiri sibuk melihat ke sekeliling saya, ingin tertawa, tidak ada yang lucu. Ingin menertawakan penyesalan diri saya sendiri. Sejenak saya intropeksi diri, kenapa saya mengulang. Pertanyaan terus mengganggu kosentrasi saya. Dilain pihak teman saya sibuk mencari jawaban, menyelesaikan soal dan meminta penghapus pulpen.

Pengawas yang bertugas untuk mengawasi kami, menjadi orang yang teman-teman saya awasi, lucu. Pengawas atau guru saya tepat di depan saya. Semakin canggung rasanya menjawab soal. Waktu berjalan sangat cepat, saya hanya bisa menjawab apa yang logika saya tahu.

Sampai ke soal nomor 4 saya berniat untuk meminta jawaban ke teman saya, tapi saya mengingat dosa itu ada, Tuhan Maha Melihat, lalu kejujuran itu penting. Kurenungi apa yang saya benci. Saya benci pembohong, saya benci koruptor. Dan jika saya menyontek, sama saja saya pembohong.

Lalu saat itu saya urungkan niat saya. Berjalannya waktu, semua soal sudah saya jawab, tak tersisa satu. Dan saya memilih untuk mengumpulnya, dikarnakan yakin atau tidak yakin dengan jawaban saya, hanya itu saja yang saya sanggup untuk menjawabnya.

Guru saya bertanya. “rini sudah yakin dengan jawabannya?” dan saya menjawab “hanya itu yang saya bisa jawab,pak”, “tidak ada lagi?” balas guruku. Saya mengangguk sebagai jawaban iya. Iya saya hanya menjawab semampu dan sepengetahuan saya. Pasrah? Tidak saya sudah berusaha dan saya tidak langsung pasrah, tapi saya berdo’a.

Saya menjadi orang pertama mengumpulkan, hembusan napas lega tapi cemas. Tak kalah cemas dengan teman-teman saya yang belum menyelesaikan, bermacam-macam cara mereka menjawab, melempar kertas, memberi kertas, berbahasa isyarat, beralasan izin, colek menyolek dan banyak lagi.

Dan singkatnya. Selepas ulangan, salah satu teman saya berkata “saya tobat meyontek, soalnya sangat susah”. Kembali lagi kita pilih NILAI ATAU ILMU. Dengan ini saya mendata sebagian teman saya memilih nilai.

Hasil ulangan sudah keluar dan sedikit mengecewakan bagi teman kelas saya. Dan beruntungnya saya menjadi salah satu dari dua orang yang menuntaskan nilai. Bukan menyombongkan diri, tapi dari sini kita mendapatkan hikmah bahwa nilai bukan segalanya. Ilmu bisa mengalahkan nilai. Dan kejujuran dapat mendobrak nilai.

Tak apa nilai anjlok tapi bekerja secara jujur. Dan dari pengalaman saya, saya tidak bermaksud untuk pamer bahwa saya lebih atau menyombongkan. Tapi saya ingin mengajak anak bangsa untuk menerapkan kejujuran dalam ujian.

Kita benci koruptor tapi kita melakukan hal yang menjadikan kita sebagai bibit koruptor. Kita membenci kebohongan tapi kita sendiri membohongi guru. Bekerjalah secara jujur, walau jujur terkadang tidak dihargai. Jika mencari keadilan pada manusia, kalian tidak akan mendapatkannya. Seperti, nilai kalian jelek tapi jujur sedangkan teman kalian yang tidak jujur nilainya tinggi. Tidak adil memang. Tapi, dimana Tuhan derajatmu lebih tinggi darinya.




“Karna keadilan pada manusia hanyalah ketidakadilan yang menyalahartikan adil itu sendiri, carilah keadilan di mata Tuhan, karna Tuhan Yang Maha Adil. Dan Jadilah anak bangsa yang menjadi orang jujur bukan anak bangsa yang menginginkan orang jujur”
-Tri Nadia Asrini-


Minggu, 07 Agustus 2016

PERNAH GAGAL ITU BAIK


SKENARIO ALLAH


Saya ingin berbagi cerita, entah nantinya cerita saya akan jadi membosankan atau malah akan menjadi cerita inspiratif bagi banyak orang. tapi saya berharap saya bisa menginspirasi banyak orang lewat tulisan saya, semoga saya bisa melakukannya.

Berawal dari SMP kelas 9, saya bingung memilih sekolah jenjang selanjutnya. Ikut kata hati atau kata orang tua. Tapi kata hati saya tak berkata dan saya memutuskan sesuatu dengan emosi. Penyesalanpun berbondong-bondong datang kepada saya. Orang tua memilihkan saya sekolah, saya setuju saking emosinya diri saya. Saya seperti orang yang hilang arah, tak punya tuju, hanya bisa mengiyakan semuanya.

Ujian Nasional telah selesai, sebulan kemudian pengumuman sudah ada. Alhamdulillah saya lulus bersama semua angkatan saya. Sedihnya nilai tak sampai ke target yang saya inginkan. saya berbisik dalam hati, “saya salah mengambil langkah di bagian mana, kenapa semua usaha terbalas dengan pahitnya kehidupan”. saya berdiri di tengah keramaian, tapi entah kenapa, saya merasa sendiri, terpukul atas apa yang telah terjadi. Berusaha menahan tangis, menahan amarah dan menahan diri dari hal-hal bodoh yang mungkin dapat membuat saya keluar dari jalur yang lurus. Tapi, saya berusaha bangkit, menyemangati diri yang lemah ini. Saat itu pula saya mengurus semua berkas dan berharap saya bisa lulus di Sekolah yang saya impikan. Selanjutnya, saya menunggu penguman,hari-hari penuh dengan tawa palsu, dengan senyuman palsu. Kata hati saya “cukup saya saja yang merasakan sakit ini. Orang tua saya, keluarga saya, serta teman-teman saya tidak boleh tersakiti”. 

Singkat cerita. Pagi hari saya terbangun dari tidur, mendengar kabar yang sangat membuat hati saya sakit. Saya seperti hidup tanpa bernapas, saya seperti melihat tapi mata tercungkil, saya seperti berdiri diatas pisau dan parahnya saya tak bisa merasakan sakit dari luka yang ada ditubuh saya. Dan rasanya pisau tajam menembus jantung ini. Saya tidak lulus di sekolah impian saya. Saya berusaha senyum, senyum, dan senyum. Tapi entah kenapa air mata saya ikut berlinang. Dan lebih parahnya saya tak bisa menangis di depan siapapun selain, ALLAH. Saat sujud terakhir, saya memaksa dengan mengatasnamakan “AKU BERDOA” saya memaksa kehendak, saya terus memaksa Allah untuk mengabulkannya, mengabulkan keinginan saya. Mungkin saya sudah setengah gila saat itu, dan tak satupun yang bisa merasakannya, saat saya bangun dari sujud entah kenapa saya merasa kosong, merasa nyawa saya sudah hilang, saya mungkin salah. Salah dan tak sadar, tapi tak tahu harus apa. Saking hilang arahnya, saya sempat berburuk sangkah pada Allah. Dosanya diriku yang berani berburuk sangka pada-Nya yang tanpa sadar saya berlumur dosa tapi terus meminta hak tanpa melakukan kewajiban. Entah apa yang terjadi, saat itu aku benar-benar putus asa. Tak satupun pundak yang menopang air mataku, saya mengangkat beban ini sendiri, saat saya butuh teman curhat saya berpikir “percuma saya cerita panjang lebar kepada siapapun, mereka pasti tidak bisa merasakannya dan ini mungkin bukan hal penting bagi mereka”. Saat itulah saya harus berdiri sendiri, berdiri tegak walau tanpa kaki. Saya pasrah.

Singkatnya. Saya masuk di SMA yang mungkin tidak kurencanakan sama sekali. Saya lalu bertanya “apa yang sebenarnya Allah rencanakan?”. Serasa kebahagiaan saya tak adalagi. Saya seperti sekolah tanpa tujuan. Hari-hari dipenuhi drama. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan. Menangis di gelapnya malam, tak tidur sampai matahari muncul. Mata yang sembab adalah hal biasa bagi saya, berusaha tertawa, tersenyum seolah-olah tak terjadi apapun dalam hidup saya.

1001 motivasi yang saya dengar, yang saya baca, tak ada satupun yang membangkitkan semangat ini. Tak ada motivasi yang bisa membuat hati saya tersentuh. 

Hingga pada saat malam itu, saya sebagai alumni SCAMS saya punya tanggung jawab untuk membagikan ilmu kepada junior. Dengan ikhlas, sayapun berangkat ke SMP saya untung membimbing, sepanjang perjalanan yang saya pikir ialah “ilmu apa yang dapat saya berikan kepada junior saya, saya saja masih kurang ilmu”.

Sampai di tempat bimbingan, saya melihat wajah-wajah penerus, wajah-wajah yang bersemangat menerima ilmu. Entah kenapa saya malu bertemu dengan pembimbing saya, yaitu pak Mansyur atau lebih dikenal dengan panggilan PMAN. Entah saya malu karna apa, saya merasa minder, entah kenapa. saya pasrah.

Saat itupun tiba, kaget melihat beliau datang, senang dapat bertemu lagi dengan sosok yang sangat berpengaruh dalam hidup saya. Beliau menitipkan amanah untuk membagikan ilmuku dan ilmu teman-temanku kepada junior. Saya menerima dan saya akan berusaha membuat junior saya menjadi lebih baik dari saya. Pman bergegas ingin pulang karna sesuatu hal yang harus dikerjanya. Tapi, kupikir ini kesempatan bagi saya untuk menceritakan batu loncatan yang ada di hidup saya. “Pak, sibukki?” ucapku. Sambil berbalik badan beliau mengatakan “Tidakji, kenapa?”. “Mauka cerita tentang batu loncatan yanga ada di hidupku pak”. Beliau menghampiriku dan dari raut mukanya beliau sepertinya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saya. Dan kata-kata yang membuat hati saya tergetar ialah “kamu sekolah disitu, itu adalah anugerah yang terindah yang telah Allah kasih kepada kamu, kamu harus yakin skenario Allah itu selalu indah, skenario Allah itu cantik, dan kamu harus enjoy, jangan malu.” Kurang lebih seperti itu. Setelah berbicara dengan beliau seperti pembicaraan yang terjadi selama kurang lebih 20 menit itu mengubah pola pikir saya, mengubah hidup dan mengubah kesedihan sebagai awal dari kesenangan. Saya salam kepada beliau dan bertima kasih, setelah beliau meninggalkan ruangan itu, aku berbalik badan, saat itupun hatiku tergerak, tergetarkan oleh kata-kata beliau, tak bisa saya menahan tangis,  saya menangis saat itu juga. Entah kenapa, sudut pandang saya terubah menjadi lebih baik. Allah selalu mengerti umatnya, dan sekarang aku mengerti cara Allah mengerti umatnya ialah mendatangkan seseorang yang bisa mengerti kita, mungkin itu cara Allah mengerti saya, yaitu mengirimkan Pman sebagai motivator yang sangat mengerti saya. Sayapun berusaha menerima dengan lapang dada. Saya mengerti.

“Skenario Allah itu selalu indah walau prosesnya terkadang buruk, tapi ingat hargai sebuah proses, tanpa proses kita tak bisa mengetahui jawaban yang sebenarnya. Maka dari itu, tetap berusaha, berdoa dan percaya bahwa Allah adalah penulis skenario terbaik untuk kita”.
-Tri Nadia Asrini-


Kamis, 07 April 2016

DUNIA NYATA

ANTARA ILMU DAN NILAI

 

Kenapa harus ada nilai? apalagi nilai Rapor.

Kenapa kita sekolah hanya mengejar NILAI? Padahal kita sekolah menuntut ILMU bukan menuntut NILAI. Kita hidup dizaman dimana Nilai bisa dibeli, hasilnya? Ilmunya ngga dapet hahaha.

Kerja tugas semata-mata hanya demi nilai, kalau sudah kepepet yahhh.. nyontek punya teman, Ilmunya? yah seadanya.

Ulangan semata-mata hanya demi Nilai, yah siswa juga pasti melakukan hal yang.. bisa dibilang "haram", seperti bikin contekan, buka buku sampai tukar jawaban sama temannya. Dan itu semua semata-mata hanya demi Nilai!.

Dan bodohnya saat orang-orang yang TIDAK merasakan apa yang siswa rasakan pada saat ulangan, yaitu pengawas bertanya "Kenapa kalian menyontek? padahal kalian punya soal sendiri? lebih baik nilai pas-pasan daripada nilai tinggi hasil nyontek!".

Pertanyaan yang sangat gampang daripada pertanyaan 1 tambah 1. jawabannya "Kenapa kami menyontek karna kalimat "lebih baik nilai pas-pasan daripada nilai tinggi hasil nyontek" hanya sebuah angan-angan semataKarna yang benar-benar terjadi ialah kami menyontek karna kenyataannya nilai dan peringkat lebih dihargai di masyarakat kita dibanding sebuah kejujuran.

Dan kami juga bukannya tidak belajar tapi kita tidak bisa semudah membalikkan tangan untuk menguasai 11 atau 12 mata pelajaran sekaligus, jangan salahkan kami jika kami fokus di satu mata pelajaran karna kami bukan robot kami manusia yang memiliki batas kemampuan.


“Hanya sebagian kecil Guru yang mengerti Siswanya dan menurut kami Guru yang mengerti keadaan siswanya adalah guru yang berpengalaman dan The real of Teacher.”
-Tri Nadia Asrini-