Rabu, 04 Juli 2018

SEBUAH CERITA


PELANGI


Namaku Rain, seperti namaku yang berarti hujan, membuatku jatuh cinta pada rinai hujan. Setiap tetesan hujan aku nikmati. Dari hujan aku juga belajar hal yang romantis, walau sudah jatuh berkali-kali ia tetap kembali. Dan hanya dibawah derasnya hujan, tak seorangpun tahu aku sedang menangis.

Tapi ada satu hal yang lebih membuatku terpesona, ialah pelangi. Namun, kita hanya dapat menikmati pelangi saat hujan bersanding dengan cahaya mentari yang bersinar dari sisi yang berlawanan si penikmat.

Terbit tenggelam bagai pelangi, yang indahnya hanya sesaat. Penuh warna yang membangkitkan sukma yang sudah lama terlelap di ruang gelap.

Aku berdiri ditengah derasnya hujan, menanti langit menampakkan busur spektrum besar ulah pembiasan cahaya mentari oleh butir-butir air.

Seperti keajaiban datang di hari yang sial. Dia yang dulunya mengabaikanku menjadi dia yang mempedulikanku. Dia adalah Irfan. Sosok pria yang membuatku jatuh berkali-kali tapi entahlah kenapa aku tetap ingin tetap kembali.

Saat aku menikmati derasnya hujan bersama penantianku akan keajaiban, dia memulai percakapan yang tidak pernah kuduga.

 “Dasar bodoh, kamu taukan di luar hujan deras? Mengapa kamu seperti anak kecil yang suka bermain-main hujan?,” tegurnya. Kamu tidak tau dan tidak ingin tau, aku menantikan saat ini, jangan buat hari ini rusak seperti hari-hari kemarin. Dan aku tidak peduli kalau aku ini seperti anak kecil yang bermain hujan, ini bukan urusan kamu, jadi tolong jangan ganggu aku, abaikan saja diriku, bukankah itu yang selalu kamu lakukan kepadaku?,” balasku. “Kamu kenapa keras kepala seperti ini sih? Akukan Cuma mengingatkan kamu? Salahkah kalau kali ini aku peduli sama kamu?”, sangkalnya. “Tidak ada yang salah kok, yang salah hanya persoalan waktu. Kamu peduli seperti ini rasanya aneh, waktunya kurang pas. Mungkin hari ini kamu hanya menyapa lalu esoknya kamu menghilang, pergi entah kemana, mungkin kamu pergi ke negeri antahbranta atau apalah itu aku tak peduli”, jelasku. “Terserah apa yang kamu mau katakan, kalau kamu tidak mau masuk, biarkan aku disini menemanimu menikmati saat ini, dibawah derasnya hujan.”

Aku tak menyangka percakapannya saat itu membuat Irfan menemaninya menikmati derasnya hujan. Semakin fajar merindukan rumahnya, semakin mereda hujan, aku yang tak sabar menanti keajaiban setelah hujan.

“Sebentar lagi, langit menampakkan keajaiban,” selaku. “Keajaiban apa yang kamu maksud? Memangnya langit penyihir yang bisa membuat keajaiban? Kamu ini makin ngawur saja, ini mungkin efek dari hujan yang membuatmu semakin sakit, sakit jiwa lagi hahaha,” sahutnya. “Jujur saja, bercandamu tidak lucu, itu karna kamu tidak tau keajaiban apa yang aku tunggu”.“Keajaiban seperti apa?,” tanya Irfan. “Keajaiban cahaya mentari yang melewati sebuah tetes hujan, dibiaskan menuju tengah tetes hujan memisahkan cahaya putih menjadi warna spektrum yang indah,” Jelasku. “Maksud kamu, pelangi?,” jawab Irfan. “Iya, pelangi. Pelangi yang tampak sebagai busur cahaya dengan ujungnya mengarah pada horizon pada suatu saat hujan ringan”.

“Kamu tau tidak, pelangi diduga sebagai gejala optik dan meteorologi berupa cahaya beraneka warna saling sejajar yang tampak dilangit yang membuat cakrawala terpesona”, lanjutku.
“Kamu banyak tau yah tentang pelangi”, balas Irfan. “Tentu saja, karna pelangi mengajarkanku ada keindahan setelah hujan, ada kado terindah dari Tuhan setelah derasnya air mata yang mengalir,” ujarku.

“Wahhhhhhhhh itu dia, keajaiban yang selalu kutunggu.” Binar mata Rain nampak jelas saat melihat warna spektrum di langit, terkesan tak sanggup berkata atas penantiannya. Pandangan Rain tak bisa lepas dari langit, sampai seketika ia berkata pada Irfan. “Fan, kamu itu seperti pelangi, yang datang lalu pergi, yang menganggapku tempat persinggahan kala bosan untuk hal yang sesaat.”

“Itulah yang kuinginkan, aku ingin menjadi pelangi untukmu yang tak bosannya untuk kamu nantikan kedatangannya, yang kala aku datang kamu bahagia. Intinya aku ingin menjadi sumber kebahagiaanmu,” jelas Irfan.

Saat itupun mereka tertawa bersama, bahagia dibawa indahnya busur spektrum. Dengan lembaran foto yang dulunya hitam putih kini lebih berwarna, seperti hidup Rain saat ini, lebih penuh warna. Rain dan Irfan siap tuk melangkah maju mengabaikan batu loncatan hidup dan menantikan pelangi. Mereka siap menyambut hari yang indah.

***
Tapi celakanya, layak pelangi yang memberi keindahan hanya sementara. Kebahagiaanku kini menjadi mala petaka.





Inspiration by "Pelangi" song
Story by Tri Nadia Asrini