PELANGI
Namaku Rain, seperti
namaku yang berarti hujan, membuatku jatuh cinta pada rinai hujan. Setiap
tetesan hujan aku nikmati. Dari hujan aku juga belajar hal yang romantis, walau
sudah jatuh berkali-kali ia tetap kembali. Dan hanya dibawah derasnya hujan,
tak seorangpun tahu aku sedang menangis.
Tapi ada satu hal yang
lebih membuatku terpesona, ialah pelangi. Namun, kita hanya dapat menikmati
pelangi saat hujan bersanding dengan cahaya mentari yang bersinar dari sisi
yang berlawanan si penikmat.
Terbit tenggelam bagai
pelangi, yang indahnya hanya sesaat. Penuh warna yang membangkitkan sukma yang
sudah lama terlelap di ruang gelap.
Aku berdiri ditengah
derasnya hujan, menanti langit menampakkan busur spektrum besar ulah pembiasan
cahaya mentari oleh butir-butir air.
Seperti keajaiban
datang di hari yang sial. Dia yang dulunya mengabaikanku menjadi dia yang
mempedulikanku. Dia adalah Irfan. Sosok pria yang membuatku jatuh berkali-kali
tapi entahlah kenapa aku tetap ingin tetap kembali.
Saat aku menikmati
derasnya hujan bersama penantianku akan keajaiban, dia memulai percakapan yang
tidak pernah kuduga.
“Dasar bodoh, kamu taukan di luar hujan deras?
Mengapa kamu seperti anak kecil yang suka bermain-main hujan?,” tegurnya. Kamu
tidak tau dan tidak ingin tau, aku menantikan saat ini, jangan buat hari ini
rusak seperti hari-hari kemarin. Dan aku tidak peduli kalau aku ini seperti
anak kecil yang bermain hujan, ini bukan urusan kamu, jadi tolong jangan ganggu
aku, abaikan saja diriku, bukankah itu yang selalu kamu lakukan kepadaku?,”
balasku. “Kamu kenapa keras kepala seperti ini sih? Akukan Cuma mengingatkan
kamu? Salahkah kalau kali ini aku peduli sama kamu?”, sangkalnya. “Tidak ada
yang salah kok, yang salah hanya persoalan waktu. Kamu peduli seperti ini rasanya
aneh, waktunya kurang pas. Mungkin hari ini kamu hanya menyapa lalu esoknya
kamu menghilang, pergi entah kemana, mungkin kamu pergi ke negeri antahbranta
atau apalah itu aku tak peduli”, jelasku. “Terserah apa yang kamu mau katakan,
kalau kamu tidak mau masuk, biarkan aku disini menemanimu menikmati saat ini,
dibawah derasnya hujan.”
Aku tak menyangka
percakapannya saat itu membuat Irfan menemaninya menikmati derasnya hujan.
Semakin fajar merindukan rumahnya, semakin mereda hujan, aku yang tak sabar menanti
keajaiban setelah hujan.
“Sebentar lagi, langit
menampakkan keajaiban,” selaku. “Keajaiban apa yang kamu maksud? Memangnya
langit penyihir yang bisa membuat keajaiban? Kamu ini makin ngawur saja, ini
mungkin efek dari hujan yang membuatmu semakin sakit, sakit jiwa lagi hahaha,”
sahutnya. “Jujur saja, bercandamu tidak lucu, itu karna kamu tidak tau
keajaiban apa yang aku tunggu”.“Keajaiban seperti apa?,” tanya Irfan.
“Keajaiban cahaya mentari yang melewati sebuah tetes hujan, dibiaskan menuju
tengah tetes hujan memisahkan cahaya putih menjadi warna spektrum yang indah,”
Jelasku. “Maksud kamu, pelangi?,” jawab Irfan. “Iya, pelangi. Pelangi yang
tampak sebagai busur cahaya dengan ujungnya mengarah pada horizon pada suatu
saat hujan ringan”.
“Kamu tau tidak,
pelangi diduga sebagai gejala optik dan meteorologi berupa cahaya beraneka
warna saling sejajar yang tampak dilangit yang membuat cakrawala terpesona”,
lanjutku.
“Kamu banyak tau yah
tentang pelangi”, balas Irfan. “Tentu saja, karna pelangi mengajarkanku ada
keindahan setelah hujan, ada kado terindah dari Tuhan setelah derasnya air mata
yang mengalir,” ujarku.
“Wahhhhhhhhh itu dia,
keajaiban yang selalu kutunggu.” Binar mata Rain nampak jelas saat melihat
warna spektrum di langit, terkesan tak sanggup berkata atas penantiannya.
Pandangan Rain tak bisa lepas dari langit, sampai seketika ia berkata pada
Irfan. “Fan, kamu itu seperti pelangi, yang datang lalu pergi, yang
menganggapku tempat persinggahan kala bosan untuk hal yang sesaat.”
“Itulah yang kuinginkan,
aku ingin menjadi pelangi untukmu yang tak bosannya untuk kamu nantikan
kedatangannya, yang kala aku datang kamu bahagia. Intinya aku ingin menjadi
sumber kebahagiaanmu,” jelas Irfan.
Saat itupun mereka
tertawa bersama, bahagia dibawa indahnya busur spektrum. Dengan lembaran foto
yang dulunya hitam putih kini lebih berwarna, seperti hidup Rain saat ini,
lebih penuh warna. Rain dan Irfan siap tuk melangkah maju mengabaikan batu
loncatan hidup dan menantikan pelangi. Mereka siap menyambut hari yang indah.
***
Tapi celakanya, layak pelangi yang
memberi keindahan hanya sementara. Kebahagiaanku kini menjadi mala petaka.
Inspiration by "Pelangi" song
Story by Tri Nadia Asrini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar