MENYONTEK
Hari ini saya akan berbagi
pengalaman tentang ulangan dan menyontek. Mungkin sudah saya singgung hal ini
dengan tulisan saya yang berjudul “NILAI ATAU ILMU”.
Hari ini kebetulan kelas saya
melakukan remedial jama’ah hehe. Iya satu kelas remedial matematika umum.
Sedikit mengecewakan, tapi itu salah kami.
Remedial dimulai, kecemasan bukan
cuma saya yang merasakan, tetapi untuk semua teman kelas saya merasakan hal
yang sama. Riuh di dalam hati berbaur dengan detak jantung yang tak henti-henti
membuat kacau pikiran.
Sebagian mungkin sibuk mencari cara
bagaimana membuka contekannya. Saya sendiri sibuk melihat ke sekeliling saya,
ingin tertawa, tidak ada yang lucu. Ingin menertawakan penyesalan diri saya
sendiri. Sejenak saya intropeksi diri, kenapa saya mengulang. Pertanyaan terus
mengganggu kosentrasi saya. Dilain pihak teman saya sibuk mencari jawaban,
menyelesaikan soal dan meminta penghapus pulpen.
Pengawas yang bertugas untuk
mengawasi kami, menjadi orang yang teman-teman saya awasi, lucu. Pengawas atau
guru saya tepat di depan saya. Semakin canggung rasanya menjawab soal. Waktu
berjalan sangat cepat, saya hanya bisa menjawab apa yang logika saya tahu.
Sampai ke soal nomor 4 saya berniat
untuk meminta jawaban ke teman saya, tapi saya mengingat dosa itu ada, Tuhan
Maha Melihat, lalu kejujuran itu penting. Kurenungi apa yang saya benci. Saya
benci pembohong, saya benci koruptor. Dan jika saya menyontek, sama saja saya
pembohong.
Lalu saat itu saya urungkan niat
saya. Berjalannya waktu, semua soal sudah saya jawab, tak tersisa satu. Dan
saya memilih untuk mengumpulnya, dikarnakan yakin atau tidak yakin dengan
jawaban saya, hanya itu saja yang saya sanggup untuk menjawabnya.
Guru saya bertanya. “rini sudah
yakin dengan jawabannya?” dan saya menjawab “hanya itu yang saya bisa
jawab,pak”, “tidak ada lagi?” balas guruku. Saya mengangguk sebagai jawaban
iya. Iya saya hanya menjawab semampu dan sepengetahuan saya. Pasrah? Tidak saya
sudah berusaha dan saya tidak langsung pasrah, tapi saya berdo’a.
Saya menjadi orang pertama
mengumpulkan, hembusan napas lega tapi cemas. Tak kalah cemas dengan
teman-teman saya yang belum menyelesaikan, bermacam-macam cara mereka menjawab,
melempar kertas, memberi kertas, berbahasa isyarat, beralasan izin, colek
menyolek dan banyak lagi.
Dan singkatnya. Selepas ulangan,
salah satu teman saya berkata “saya tobat meyontek, soalnya sangat susah”.
Kembali lagi kita pilih NILAI ATAU ILMU. Dengan ini saya mendata sebagian teman
saya memilih nilai.
Hasil ulangan sudah keluar dan
sedikit mengecewakan bagi teman kelas saya. Dan beruntungnya saya menjadi salah
satu dari dua orang yang menuntaskan nilai. Bukan menyombongkan diri, tapi dari
sini kita mendapatkan hikmah bahwa nilai bukan segalanya. Ilmu bisa mengalahkan
nilai. Dan kejujuran dapat mendobrak nilai.
Tak apa nilai anjlok tapi bekerja
secara jujur. Dan dari pengalaman saya, saya tidak bermaksud untuk pamer bahwa
saya lebih atau menyombongkan. Tapi saya ingin mengajak anak bangsa untuk
menerapkan kejujuran dalam ujian.
Kita benci koruptor tapi kita
melakukan hal yang menjadikan kita sebagai bibit koruptor. Kita membenci
kebohongan tapi kita sendiri membohongi guru. Bekerjalah secara jujur, walau
jujur terkadang tidak dihargai. Jika mencari keadilan pada manusia, kalian
tidak akan mendapatkannya. Seperti, nilai kalian jelek tapi jujur sedangkan
teman kalian yang tidak jujur nilainya tinggi. Tidak adil memang. Tapi, dimana
Tuhan derajatmu lebih tinggi darinya.
“Karna keadilan pada manusia hanyalah ketidakadilan yang
menyalahartikan adil itu sendiri, carilah keadilan di mata Tuhan, karna Tuhan
Yang Maha Adil. Dan Jadilah anak bangsa yang menjadi orang jujur bukan anak
bangsa yang menginginkan orang jujur”
-Tri Nadia Asrini-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar