SKENARIO ALLAH
Saya
ingin berbagi cerita, entah nantinya cerita saya akan jadi membosankan atau
malah akan menjadi cerita inspiratif bagi banyak orang. tapi saya berharap saya
bisa menginspirasi banyak orang lewat tulisan saya, semoga saya bisa
melakukannya.
Berawal
dari SMP kelas 9, saya bingung memilih sekolah jenjang selanjutnya. Ikut kata
hati atau kata orang tua. Tapi kata hati saya tak berkata dan saya memutuskan
sesuatu dengan emosi. Penyesalanpun berbondong-bondong datang kepada saya.
Orang tua memilihkan saya sekolah, saya setuju saking emosinya diri saya. Saya
seperti orang yang hilang arah, tak punya tuju, hanya bisa mengiyakan semuanya.
Ujian
Nasional telah selesai, sebulan kemudian pengumuman sudah ada. Alhamdulillah
saya lulus bersama semua angkatan saya. Sedihnya nilai tak sampai ke target
yang saya inginkan. saya berbisik dalam hati, “saya salah mengambil langkah di
bagian mana, kenapa semua usaha terbalas dengan pahitnya kehidupan”. saya
berdiri di tengah keramaian, tapi entah kenapa, saya merasa sendiri, terpukul
atas apa yang telah terjadi. Berusaha menahan tangis, menahan amarah dan
menahan diri dari hal-hal bodoh yang mungkin dapat membuat saya keluar dari
jalur yang lurus. Tapi, saya berusaha bangkit, menyemangati diri yang lemah
ini. Saat itu pula saya mengurus semua berkas dan berharap saya bisa lulus di
Sekolah yang saya impikan. Selanjutnya, saya menunggu penguman,hari-hari penuh
dengan tawa palsu, dengan senyuman palsu. Kata hati saya “cukup saya saja yang
merasakan sakit ini. Orang tua saya, keluarga saya, serta teman-teman saya
tidak boleh tersakiti”.
Singkat
cerita. Pagi hari saya terbangun dari tidur, mendengar kabar yang sangat
membuat hati saya sakit. Saya seperti hidup tanpa bernapas, saya seperti
melihat tapi mata tercungkil, saya seperti berdiri diatas pisau dan parahnya
saya tak bisa merasakan sakit dari luka yang ada ditubuh saya. Dan rasanya
pisau tajam menembus jantung ini. Saya tidak lulus di sekolah impian saya. Saya
berusaha senyum, senyum, dan senyum. Tapi entah kenapa air mata saya ikut
berlinang. Dan lebih parahnya saya tak bisa menangis di depan siapapun selain,
ALLAH. Saat sujud terakhir, saya memaksa dengan mengatasnamakan “AKU BERDOA”
saya memaksa kehendak, saya terus memaksa Allah untuk mengabulkannya,
mengabulkan keinginan saya. Mungkin saya sudah setengah gila saat itu, dan tak
satupun yang bisa merasakannya, saat saya bangun dari sujud entah kenapa saya
merasa kosong, merasa nyawa saya sudah hilang, saya mungkin salah. Salah dan
tak sadar, tapi tak tahu harus apa. Saking hilang arahnya, saya sempat berburuk
sangkah pada Allah. Dosanya diriku yang berani berburuk sangka pada-Nya yang
tanpa sadar saya berlumur dosa tapi terus meminta hak tanpa melakukan
kewajiban. Entah apa yang terjadi, saat itu aku benar-benar putus asa. Tak
satupun pundak yang menopang air mataku, saya mengangkat beban ini sendiri,
saat saya butuh teman curhat saya berpikir “percuma saya cerita panjang lebar
kepada siapapun, mereka pasti tidak bisa merasakannya dan ini mungkin bukan hal
penting bagi mereka”. Saat itulah saya harus berdiri sendiri, berdiri tegak
walau tanpa kaki. Saya pasrah.
Singkatnya.
Saya masuk di SMA yang mungkin tidak kurencanakan sama sekali. Saya lalu
bertanya “apa yang sebenarnya Allah rencanakan?”. Serasa kebahagiaan saya tak adalagi.
Saya seperti sekolah tanpa tujuan. Hari-hari dipenuhi drama. Saya bingung, apa
yang harus saya lakukan. Menangis di gelapnya malam, tak tidur sampai matahari
muncul. Mata yang sembab adalah hal biasa bagi saya, berusaha tertawa,
tersenyum seolah-olah tak terjadi apapun dalam hidup saya.
1001
motivasi yang saya dengar, yang saya baca, tak ada satupun yang membangkitkan
semangat ini. Tak ada motivasi yang bisa membuat hati saya tersentuh.
Hingga
pada saat malam itu, saya sebagai alumni SCAMS saya punya tanggung jawab untuk
membagikan ilmu kepada junior. Dengan ikhlas, sayapun berangkat ke SMP saya
untung membimbing, sepanjang perjalanan yang saya pikir ialah “ilmu apa yang
dapat saya berikan kepada junior saya, saya saja masih kurang ilmu”.
Sampai
di tempat bimbingan, saya melihat wajah-wajah penerus, wajah-wajah yang
bersemangat menerima ilmu. Entah kenapa saya malu bertemu dengan pembimbing
saya, yaitu pak Mansyur atau lebih dikenal dengan panggilan PMAN. Entah saya
malu karna apa, saya merasa minder, entah kenapa. saya pasrah.
Saat
itupun tiba, kaget melihat beliau datang, senang dapat bertemu lagi dengan
sosok yang sangat berpengaruh dalam hidup saya. Beliau menitipkan amanah untuk
membagikan ilmuku dan ilmu teman-temanku kepada junior. Saya menerima dan saya
akan berusaha membuat junior saya menjadi lebih baik dari saya. Pman bergegas
ingin pulang karna sesuatu hal yang harus dikerjanya. Tapi, kupikir ini
kesempatan bagi saya untuk menceritakan batu loncatan yang ada di hidup saya.
“Pak, sibukki?” ucapku. Sambil berbalik badan beliau mengatakan “Tidakji,
kenapa?”. “Mauka cerita tentang batu loncatan yanga ada di hidupku pak”. Beliau
menghampiriku dan dari raut mukanya beliau sepertinya sudah tahu apa yang
sebenarnya terjadi pada saya. Dan kata-kata yang membuat hati saya tergetar
ialah “kamu sekolah disitu, itu adalah anugerah yang terindah yang telah Allah
kasih kepada kamu, kamu harus yakin skenario Allah itu selalu indah, skenario
Allah itu cantik, dan kamu harus enjoy, jangan malu.” Kurang lebih seperti itu.
Setelah berbicara dengan beliau seperti pembicaraan yang terjadi selama kurang
lebih 20 menit itu mengubah pola pikir saya, mengubah hidup dan mengubah
kesedihan sebagai awal dari kesenangan. Saya salam kepada beliau dan bertima
kasih, setelah beliau meninggalkan ruangan itu, aku berbalik badan, saat itupun
hatiku tergerak, tergetarkan oleh kata-kata beliau, tak bisa saya menahan
tangis, saya menangis saat itu juga. Entah kenapa, sudut pandang
saya terubah menjadi lebih baik. Allah selalu mengerti umatnya, dan sekarang
aku mengerti cara Allah mengerti umatnya ialah mendatangkan seseorang yang bisa
mengerti kita, mungkin itu cara Allah mengerti saya, yaitu mengirimkan Pman
sebagai motivator yang sangat mengerti saya. Sayapun berusaha menerima dengan
lapang dada. Saya mengerti.
“Skenario Allah itu selalu indah
walau prosesnya terkadang buruk, tapi ingat hargai sebuah proses, tanpa proses
kita tak bisa mengetahui jawaban yang sebenarnya. Maka dari itu, tetap
berusaha, berdoa dan percaya bahwa Allah adalah penulis skenario terbaik untuk
kita”.
-Tri Nadia Asrini-
2 komentar:
So touch!!!
So touch!!!
Posting Komentar